Upacara Adat


Upacara Adat

  • Wadian
  • Upacara Tiwah (upacara memindahkan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
  • Wara (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
  • Balian (upacara atau prosesi pengobatan)
  • Potong Pantan (upacara peresmian atau penyambutan tamu kehormatan)
  • Mapalas (upacara membuang sial atau membersihkan diri dari malapetaka)
  • Ijambe (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)

Wadian:

Zaman dahulu kala, saat pengobatan medis tidak semaju sekarang, orang-orang Dayak memanfaatkan jasa wadian untuk mengobati sakit yang mereka derita. Lama atau tidaknya ritual pengobatan tergantung dari parah tidaknya penyakit yang diderita.
Upacara Wadian dapat berlangsung selama 1 minggu lebih. Jenis wadian antara lain Wadian Pangunraun (Pangunraun Jatuh,Pangunraun Jawa),Wadian Dapa,Wadian Tapu Unru, wadian dadas, wadian bawo, wadian bulat.
Dewasa ini, selain untuk pengobatan, wadian juga telah dikembangkan sedemikian rupa menjadi salah satu kesenian daerah yang dapat dinikmati sebagai sebuah atraksi kesenian yang sangat menarik.



Tiwah :

Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.
Perantara dalam upacara ini ialah :
Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan.
Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun , melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian.


Wara, upacara sakral Dayak Dusun

Masyarakat Dayak Dusun di Kalimantan Tengah memiliki upacara adat yang sangat sakral. Upacara tersebut dinamakan wara. Upacara sakral ini mirip dengan upacara ngaben yang biasa dilakukan masyarakat Hindu di Bali. Upacara ini bagi penganut agama Hindu Keharingan di Kalimantan Tengah merupakan salah satu dari sekian banyak upacara adat yang memiliki nilai ritual dan sakral yang sangat tinggi, khusus yang ditemui dalam upacara adat kematian. 
Masyarakat Dayak membedakan manusia dalam tiga dimensi siklus, yaitu manusia sebelum lahir, manusia setelah lahir yang dinamakan alam kehidupan (dunia) dan manusia setelah kehidupan (alam surga atau syurga loka). Siklus ini selalu ditandai dengan berbagai upacara adat yang berurutan sejak seorang manusia masih dalam kandungan hingga setelah meninggal dunia.Menurut kepercayaan masyarakat Dayak yang memeluk kepercayaan Keharingan upacara ini memiliki nilai ritual tertinggi dibandingkan dengan upacara adat sebelumnya. Dalam upacara ini, roh yang sebelumnya menunggu di Gunung Lumut salah satu tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat Dayak di pedalaman sungai Tewei (Teweh) dipanggil kembali untuk menerima sesajen dan pensucian sebelum dihantar ke syurga loka (tempat suci).
Upacara adat wara adalah upacara adat kematian yang dilakukan oleh masyarakat Kaharingan untuk mengantarkan arwah leluhur ke tempat paling akhir yang disebut lewu tatau (surga) . Wara merupakan ritual upacara dalam rangka membagikan bagian harta benda kepada arwah kakek, nenek atau orangtua atau saudara dari keluarga – keluarga penyelenggara upacara wara yang telah meninggal satu atau dua tahun yang lalu. Pembagian harta benda tersebut dilambangkan dalam bentuk sesajen berupa makanan dan minuman sesuai makanan kebiasaan arwah orang yang diupacarai tersebut. Upacara Wara biasanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Upacara Wara dipimpin oleh Wadian Wara yang berperan sebagai penghubung antara manusia dengan arwah . Wadian Wara dibantu oleh pelayan-pelayannya yang disebut Pangading. Mereka melakukan upacara demi upacara, misalnya ; makan diau (memberi makan arwah), dan nutui lalan diau nuju gunung lumut (mengantar arwah dalam perjalanan ke surga). 



Potong Pantan :


Upacara untuk menyambut Tamu dari luar daerah Kalteng maka akan disambut dengan Potong Pantan sebagai bentuk penghormatan untuk persaudaraan dan keakraban.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar